subhanallah.. “Alloh tidak pernah salah alamat”
begitu tutur dosen ku..
sebuah kata yg sangat menginspirasi bagi ku..
n ternyata aku pun mengalami hal yang serupa…

subhanallah.. “Alloh tidak pernah salah alamat”
begitu tutur dosen ku..
sebuah kata yg sangat menginspirasi bagi ku..
n ternyata aku pun mengalami hal yang serupa…

Sesuatu akan kita rasakan kenikmatannya saat sesuatu itu pergi meninggalkan kita. dan kenikmatan yang sekejap itu sering kali membuat mata kita terlena dan kurang menyadari atas kehendakNya atas semua hal yang kita miliki..
Kehidupan ini penuh dengan lika-liku. Banyak kegembiraan, kesukacitaan, kenikmatan, kedukaan (atas Agresi Israel ke Palestina), dan kejutan dari Allah yang tiada pernah disangka2.. selalu kita hadapi
Jika dianalogikan dengan nalar, mungkin semua yang kita alami tidaklah dapat diterima dengan akal. Misalnya sebuah hidayah yang tiba2 datang hanya karena kita menyaksikan sesuatu. Atau sebuah perubahan sikap atas keputusan yang kita buat. tapi Subhanallah, semua terjadi sesuai dengan rencana-Nya. Karena tidak selembar pun daun yang jatuh ke bumi, melainkan dengan rencana dari Allah SWT.
ya.. Allah is always has the best destiny for us..
that is my motto..
Subhanallah.. semua jalan2 tu mulai terbuka.. dan kegelapan itu (insya Allah) sudah mulai menampakkan sinarnya..
tidak ada yang patut disyukuri selain dari-Nya.
karena hanya DIA-lah yang mengerti kita.
kesulitan yang kita hadapi, sering kali berakhir indah dengan hadirnya kejutan-kejutan istimewa darinya.. sehingga tanpa sadar,, diri ini langsung tersungkur, menangis, dan bersyukur atas semua kehendaknya..
Ya.. karena DIA takan pernah meninggalkan kita.. bahkan, jika kita mendekatiNya dengan selangkah,, DIA akan mendekati kita dengan berlari..
Subhanallah… Maha Suci Allah,, terima kasih atas semua karunia yang selalu Engkau anugerahkan kepada hamba yang dhoif ini,,
Hamba ingin terus berada disamping-Mu, di jalan-Mu, bersama-Mu.
Rabbana La Tuzig qulubana ba’da iz hadaitana wahablana min ladunka rahmah. innaka Antal wahhab

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahir- kan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan: "Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah?" Tuhan menjawab: "Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu." "Tapi di sini, di dalam surga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk bahagia." "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih bahagia." "Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?" "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara berbicara." "Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu?" "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara berdoa." "Saya mendengar di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya?" "Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal itu mungkin akan mengancam jiwanya." "Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak melihatMu lagi." "Malaikat akan menceritakan kepadamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu." Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari bumi dapat terdengar, dan sang bayi bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?"
“Kamu akan memanggil malaikatmu, “IBU”

“Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Q.S Al Baqarah: 85)
Permasalahan Palestina bukan lagi hanya sebatas isu. Ini adalah hal nyata yang tercantum dalam Al Qur’an. Tapi betapa piciknya hati kita, yang dengan mudahnya menepis bahwa penderitaan mereka tidaklah seberat apa yang selalu diberitakan.
Sadarlah saudaraku..
Mereka benar-benar menderita disana,.
Bagaimana tidak,, jika untuk bertahan hidup saja mereka harus mengorbankan nyawanya.
Untuk makan misalnya, warga Ghaza, harus rela mengorbankan diri dengan merangkak di terowongan-terowongan tak jelas sistem keamanannya untuk mencari makanan yang notabene juga harus dibayar mahal.
Bagaimana dengan kita?
Bahkan kita cenderung untuk membuang makanan karena makanan yang kita miliki jumlahnya terlalu banyak dan tidak mungkin untuk kita makan..

Allahu akbar allahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd.
Alhamdulillah, di bulan Zulhijjah tahun 1429 H ini aku masih dapat mendengar
Gema takbir indah ini.. sayup-sayupnya tak pernah membuatku bosan..
Sungguh nama Agung yang selalu terngiang..
Pada hari inilah, Puluhan abad yang lalu Sang Khalilullah, Nabi Ibrahim a.s,
membuktikan rasa cintanya kepada Sang Khaliq, Allah Azza wa Jalla..
Sungguh cinta yang sangat luar biasa dimana Pelita jiwa yang selalu dinanti kehadirannya, Nabi Ismail a.s, rela dia korbankan demi cinta tertingginya kepada Sang Pemilik Cinta..
Hingga Allah pun menganugerahinya gelar sebagai Khalilullah.. kekasih Allah..
Alangkah indah cinta itu,, cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan..
Karena Sang Maha Indah telah mengetahui pengorbanan yang telah dilakukan kekasihNya itu..
Ya.. cinta memang membutuhkan pengorbanan..
Pengorbanan tanpa henti dan tanpa pamrih..
Sedang pembuktian cinta tidak hanya terbatas pada kata-kata..
Bahkan sejatinya.. pembuktian cinta itu diungkapkan dengan perbuatan..
Ku sadar, Cintaku pada-Nya mungkin hanya bertepuk sebelah tangan..
Bahkan mungkin Ia tidak menganggapku istimewa…
Namun hal itu memanglah kesalahanku..
Karena aku.. belum membuktikan pengorbananku demi cinta-Nya
Bahkan pantaskah aku berkata.. Aku Mencintai mu..
Padahal,, masih kutakuti datangnya waktu jika Engkau datang memanggilku..
Karena ku tahu,, amalanku takkan sanggup membuat-Mu tersenyum..
Dan ku tahu,, Engkau pasti kecewa dengan hal itu..
Ya Allah,, maafkan aku yang belum bisa mencintaimu dengan sempurna…
Dan izinkanlah aku untuk terus mencintai-Mu,
Merindukan perjumpaan terindah dengan-Mu..
Hingga akhirnya..
Kuharap,, Engkau pun akan mencintaiku..
Amin
Wahai para pencinta hal yang semu..
Segeralah kembali pada Sang Penggenggam Cinta
Karena merugilah orang yang tidak mendapat Cinta-Nya
Cinta dimana kita SEHARUSNYA melabuhkan cinta tertinggi kita…
Hanya untuk NYA..
Bogor, 7 Desember 2008
Mardhotillah seeker

Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan. Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria berkata ingin menjadi matahari. Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga. Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari. Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari. Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari. Baca entri selengkapnya »

Kisah di 
bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga
Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca
beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari tiga
orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus
saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas
yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke
para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar
dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan
mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap siswa diminta untuk
mempresentasikan didepan kelas.
Saya adalah seorang yang periang, mudah
bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini
sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami
saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi
kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat
dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan
meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil
mencari tempat duduk
yang masih kosong.
Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk
dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan
orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu
“bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri
dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu
bergerak sama sekali.
Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya
menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan
ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam,
tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta
agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.
Ia menyapa “Good
day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan
untuk membayar makanan yang akan dipesan.
Baca entri selengkapnya »

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang
dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya
menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di
tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk
mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat
tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang
ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring
lurus di atas punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama
berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah,
pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan
tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat
jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan
tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan
sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa
begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan
indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di
luar sana.
“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang
indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan
anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa
pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang
dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi.
Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas
sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja
yang indah.” Baca entri selengkapnya »

Seorang anak wanita bertanya, tatkala ia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badan terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuk.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian membungkuk? Dan sepertinya, Ayah menjadi demikian tanpa ada mengeluh rasa sakit?”
Ayahnya menjawab, “Sebab aku laki-laki.”
Anak wanita itu bergumam, “Aku tidak mengerti.” Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum. Lalu dibelainya rambut anak wanita itu, sambil dibisikkan sebuah kalimat lembut. “Kelak kau akan mengerti.”
Anak wanitu itu pun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tetapi tetap saja dia tak menemukan jawaban atas pertanyaannya bertahun-tahun lalu.
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olahdia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
”Saat Ku-ciptakan laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh, dan terlindungi.”
“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi keluarganyadan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”
“Ku-berikan kemauan padanya agar selaluberusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.”
“Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya, dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram air hujan dan dihembus angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”
“Ku- berikan kesabaran, ketekunan, serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya.”
“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, di dalam kondisi dan situasi apapun juga. Walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku-berikan kerutan wajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara gara keluarganya bisa hidup di dalam keluarga sakinah. Dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa beusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
“Ku-berikan kepada laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”
Terbangun anak wanita itu dan segera ia berlari, bersuci, dan berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu ia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdzikir, ketika ayahnya berdiri, anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.
“Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah, Terima kasih …!”
dikirim oleh seorang teman

I’ve ever taught that my precious time was be to my senior high school time..
I’ve ever felt that my precious friends were come from my senior high school..
I’ve ever dreamed that my precious obsession will be come true for my senior high school..
But that’s all was changed after I knew a place..
A place where turned almost my whole life
A place where I found my real me..
A place where everything I got improves my life..
Bogor EduCARE..
That’s name of the place..
Where every laugh ever blew,,
Where every tears ever dropped,,
Where every emotion ever filled..
Thank for my lecture…
Thank for my friend…
Thank for the experience…
Thank for being my life part..
Thank BEC…
Hope I can always be with you…